Rabu, 26 Oktober 2016

makalah telaah kurikulum

LANDASAN PSIKOLOGIS KURIKULUM
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Terstruktur
Mata Kuliah Telaah Kurikulum Biologi
Dosen Pengampu : Dr. Anda Juanda, M.Pd.  

Description: E:\579830_286189884816269_2027824072_n.png


Disusun Oleh  :
Ari Irawan                   (1413163053)
Meitha Adirah H         (1413163089)
Vivi Alvia Dewi          (1413163121)

Kelompok III

Kelas : Biologi C Semester V


JURUSAN TADRIS IPA BIOLOGI
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SYEKH NURJATI
CIREBON
2015


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Dalam proses pengembangan sebuah kurikulum banyak hal yang perlu diperhatikan, diantaranya landasan dalam pengembangannya. Landasan pengembangan kurikulum diantaranya, landasan fisiologis, landasan psikologis, landasan sosial dan budaya, maupun landasan filosofis pengembangan kurikulum. Dari sekian landasan tadi, saya mencoba mengembangkan dan memaparkan landasan psikologis dalam suatu kurikulum.
Kurikulum sebagai suatu program dan alat untuk mencapai tujuan pendidikan, mempunyai hubungan dengan proses perubahan perilaku peserta didik. Dalam hal ini kurikulum merupakan suatu program pendidikan yang berfungsi sebagai alat untuk mengubah perilaku peserta didik (peserta didik) ke arah yang diharapkan oleh pendidikan. Oleh sebab itu, proses pengembangan kurikulum perlu memperhatikan asumsi–asumsi yang bersumber dalam bidang kajian psikologi.
Peserta didik merupakan individu yang sedang berada dalam proses perkembangan (fisik, intelektual, social emosional, moral, dan sebagainya), sedangkan tugas utama seorang guru sebagai pendidik adalah membantu untuk mengoptimalkan perkembangan peserta didiknya berdasarkan tugas–tugas perkembangannya. Sehingga diharapkan dengan menerapkan landasan psikologi dalam proses pendidikan yang dilaksanakan lebih relevan dengan hakikat peserta didik, baik penyesuaian dari segi materi, maupun dari segi penyampaian dan proses belajar serta penyesuaian dari unsur–unsur upaya pendidikan lainnya
Karakteristik perilaku tiap individu pada tiap tingkat perkembangan merupakan kajian yang terdapat dalam cabang psikologi perkembangan. Oleh sebab  itu, dalam pengembangan kurikulum yang senantiasa berhubungan dengan program pendidikan untuk kepentingan peserta didik, maka landasan psikologi mutlak harus dijadikan dasar dalam proses pengembangan kurikulum. Perkembangan yang dialami oleh peserta didik pada umumnya diperoleh melalui proses belajar. Guru sebagai pendidik harus mengupayakan cara/metode yang lebih baik untuk melaksanakan proses pembelajaran guna mendapatkan hasil yang optimal, dalam hal ini proses pembelajaran mutlak diperlukan pemikiran yang mendalam dengan memperhatikan psikologi belajar.
Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam hal penentuan isi kurikulum yang diberikan/dipelajari peserta didik, baik tingkat kedalaman dan keluasan materi, tingkat kesulitan dan kelayakannya serta manfaatnya yang disesuaikan dengan tahap dan tugas perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan sumbangan terhadap pengembangan kurikulum terutama berkenaan dengan bagaimana kurikulum itu diberikan kepada peserta didik dan bagaimana peserta didik harus mempelajarinya, berarti berkenaan dengan strategi pelaksanaan kurikulum.
Landasan psikologis kurikulum menuntut kurikulum untuk memperhatikan dan mempertimbangkan aspek peserta didik dalam pelaksanaan kurikulum sehingga nantinya pada saat pelaksanaan kurikulum apa yang menjadi tujuan kurikulum akan tercapai secara optimal. Sehingga unsur psikologis dalam pengembangan kurikulum mutlak perlu diperhatikan.

B.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui pendapat para ahli mengenai psikologi behaviorisme.
2.      Untuk mengetahui psikologi kognitif menurut piaget.
3.      Untuk mengetahui psikologi penomenologi dan humanistic.
4.      Untuk mengetahui peran psikologi bagi guru.

C.     Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, ada beberapa permasalahan yang melatar belakangi penyusunan makalah ini, antara lain:
1.      Bagaimana pendapat para ahli mengenai psikologi behaviorisme?
2.      Bagaimana psikologi kognitif menurut piaget?
3.      Bagaimana psikologi penomenologi dan humanistic?
4.      Bagaimana peran psikologi bagi guru?



.













BAB II
LANDASAN PSIKOLOGI KURIKULUM

A.     Psikologi Behaviorisme
Menurut aliran ini, psikologi adalah pengetahuan yang mempelajari tingkah laku (behavior) manusia. Aliran ini timbul pada abad 20. Dipopilerkan oleh Mac Daougall. Behaviorisme tidak menyelediki kesadaran dan peristiwa-peristiwa psikis karena hal ini adalah abstrak, tidak dapat dilihat sehingga tidak dapat diperiksa dan dipercayai. Oleh karena itu, ahli-ahli faham ini memegang teguh prinsip-prinsip: (1) objek psikologis adalah behavior, yaitu gerak lahir yang nyata, atau reaksi-reaksi manusia terhadap perangsang-perangsang tertentu. (2) Unsur behavior adalah refleksi, yaitu reaksi tak sadar atas perangsang dari luar tubuh, maka psikologi ini terkenal dengan nama behaviourisme (Fauzi, 1999: 19).
Kelompok behaviorisme banyak mengambil ide-ide atau pemikiran Aristotle, seperti filsafat realisme, sehingga jangan heran kalau paradigm kaum behavioris membangun psikologi belajar mengikuti pendahulunya, bersifat materialis, reduksionis, mekanistik, danfisikalis. Hasil belajar siswa harus dapat diamati/diobservasi dan diukur, dan hal-hal yang subjektif seperti nilai, moral dan yang lainnya harus direduksi (dibuang), karena mengganggu pengukuran yang objektif (Juanda, 2012: 102).
Prinsip belajar behaviorisme mengutamakan tes hasil belajar (testing), pengawasan (monitoring), pembiasaan (drilling), dan impan balik (feedback), ini sebagai cirri khas behaviorisme. Metode belajar behoviorisme mengutamakan belajar individu, intruksi, latihan, penguasaan materi, dan penguasaan kompetensi. Kaum behavioris menempatkan guru pada posisi sentral, artinya guru sebagai instructor yang menentukan seluruh kebutuhan balajar siswa, sementara siswa menerima apa saja yang diajarkan oleh guru (Juanda, 2012: 103).
1.      Ivan Pavlov
Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) adalah seorang behavioristik terkenal dengan teori pengkondisian asosiatif stimulus-respons dan hal ini yang dikenang darinya hingga kini. Classic conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan (Pratama, 2014).
Ia menemukan bahwa ia dapat menggunakan stimulus netral, seperti sebuah nada atau sinar untuk membentuk perilaku (respons). Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya.
Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu.Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang di inginkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.
Menurut Feronika (2012), teori ini mengatakan bahwa setiap rangsangan akan menimbulkan gerak balas. Gerak balas ialah apa sahaja tingkah laku yang timbul akibat daripada rangsangan. Manakala rangsangan pula adalah apa sahaja bentuk tenaga yang menimbulkan gerak balas pembelajaran boleh berlaku akibat kaitan di antara rangsangan dengan gerak balas. Rangsangan juga boleh dikaitkan dengan satu rangsangan yang lain untuk mendatangkan pembelajaran. Pembelajaran yang berlaku karena perkaitan di namakan pelaziman manakala pembelajaran akibat dari perkaitan dua rangsangan dinamakan pelaziman klasik.
Sebagai contoh apabila guru memberikan arahan supaya murid mengangkat tangan, maka murid dengan cepat akan mengangkat tangannya. Arahan ialah rangsangan, manakala tindakan mengangkat tangan ialah gerak balas. Hasil daripada kajiannya, Pavlov berpendapat bahwa pembelajaran boleh berlaku kesan daripada kaitan antara rangsangan dengan gerakbalas.
Pembelajaran yang berlaku melalui perkaitan tersebut dinamakan sebagai pelaziman dan pembelajaran yang berlaku akibat dua ransangan ini dikenali sebagai pelaziman klasik. Pelaziman klasik ini termasuklah mengaitkan simbol-simbol dengan apa yang dilambangkan, mengaitkan nama dengan watak, mengaitkan istilah teknik di dalam fisik dengan apa yang dimaksudkan atau mengaitkan tarik dengan peristiwa
2.      E. L Thorndike
Menurut Uno (2008:7), Thorndike menjelaskan belajar adalah proses interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan, atau gerakan) dan respons (yang juga bisa berupa pikiran, perasaan, atau gerakan). Jelasnya, menurut Thorndike, perubahan tingkah laku boleh berwujud sesuatu yang konkret (dapat diamati), atau nunkonkret (tidak bisa diamati).
Sedangkan menurut Ismali (2015), Thorndike memaparkan belajar merupakan peristiwa menumbuhkembangkan asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa  yang disebut stimulus (S) dengan respon (R). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat. Sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang.
Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Disinilah sejumlah pakar menyatakan teori Thorndike ini dengan sebutan Instrumental Conditioning.
Bentuk paling dasar dari belajar hakekatnya adalah “trial and error learning atau selecting and connecting learning”. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi. Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberi sumbangan teoritis yang cukup besar di dunia pendidikan inilah maka ia dinobatkan sebagai salah satu tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan
3.      B. F Skinner
Skinner (1968) yang datang kemudian merupakan penganut paham neobehavioris yang mengalihkan dari laboratorium ke praktek kelas. Skinner mempunyai pendapat lain lagi, yang ternyata mampu mengalahkan pamor teori-teori Hull dan Guthrie. Hal ini mengkin karena kemampuan Skinner dalam “menyederhanakan” erumitan toerinya seta menjelaskan konsep-konsep yang ada dalam teorinya tersebut.
Menurut Skinner, deskripsi hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan perubahan tingkah laku (dalam hubungannya dengan lingkungan) menurut versi Watson tersebut adalah deskripsi yang tidak lengkap. Respon yang diberikan adalah siswa tidaklah sesederahan itu, sebab pada dasarnya setiap stimulus yang diberikan berintersksi satu dengan lainnya, dan interaksi ini akhirnya mempengaruhi respon yang dihaslikan.
Sedangkan respon yang diberikan juga menghasilkan berbagai konsekuensi, yang pada gilirannya  akan memperngaruhi tingkah laku siswa. Oleh karena itu, untuk memahami tinglah laku seswa secara tuntas, diperlukan pemahaman terhadap respon itu sendiri, dan berbagai konsekuensi yang diakibatkan oleh respon tersebut.  (Uno, 2008: 9). Teori Skinner menyederhanakan hasil eksperimen para pendahulunya dan diakui sebagai teori belajar yang masih berpengaruh terhadap penyusunan kurikulum, dan cara belajar siswa diberbagai tingkat sekolah sampai abad ini. (Juanda, 2012: 102-103).
Skinner juga menjelaskan bahwa menggunakan perubahan-perubahan mental sebagai alat untuk menjelaskan tingkah laku hanya akan membuat segala sesuatunya menjadi tambahan rumit, sebab “alat” itu akhirnya juga harus dijelaskan lagi. Misalnya. Apabila dikatakan bahwa “seorang siswa berprestasi buruk sebab siswa ini mengalami frustasi” akan menuntut perlu dijelaskan “apa itu furstasi”. Penejalasan frustasi ini besar kemungkinan akan memerlukan penjelasan lain. Begitu seterusnya.
Sebagian besar ahli psikologi, teruatama ahli psikologi kepribadian, dapatmembedakan berdasarkan dua perspektif: (1) yang berkomitmen pada studi atas perbedaan dan keunikan individu, dan (2) yang mengandalkan pada konstruk-konstruk hipotesis untuk mempelajari variasi-variasi dan kompleksitas tingkah laku manusia. Perspektif-perspektiif tersebut menentukan atau memberi corak kepada teori kepribadian yang dikembangkan oleh para ahli yang bersangkutan (Uno, 2008: 9).
Bukan halnya Skinner, sepanjang karirnya ia mempertanyakan apakah teori-teori abstrak diperlukan atau tidak dalam rangka pendekatan yang berlandaskan semata-mata pada kaitan yang dapat diamati antara tingkah laku dadn konsekuensi-konsekuesnsinya. Ia emnegaskan bahwa psikologi, terutama psikololgi belajar atau pembelajaran, tidak bisa mengandalkan hanya pada teori-teori tentang tingkah laku manusia sering memberikan ketentraman yang keliru kepada para ahli psikologi mengenai pengetahuna mereka bilamana dalam kenyataannya mereka tidak memahami kaitan antara tingkah laku yang muncul sepanjang peristiwa yang terjadi di lingkungannya (Uno, 2008: 9).
Skinner menolak seluruh penguraian tingkah laku yang berdasarkan pada keberadaan agen hipotetis yang terdapat dan menentukan diri mauisa seperti self, ego, dan sebagainya. Mekanisme mentalistik dan intrapsikis itu bersumber pada pemikiran animisme. Menurut Skinner, kita tidak perlu mencoba untuk menemukan apa itu kepribadian, keadaan jiwa, perasaan, sifat-sifat, rencana, tujuan, sasaran, atau prasyarat-prasyarat lain dari manusia otonom dalam rangka memperoleh pemahaman mengenai tingkah laku manusia.
Penolakan Skinner atas penggunaan susunan-susunan atau penyebab internal hipotetis tidak berarti bahwa semuanya itu tidak merupakan fenomena yang penting bai ahli psikologi dalam mempelajari manusia, melainkan lebih dimaksudkan bahwa susunan-susunan hipotetis tersebut menjadi selubung yang mengakibatkan pendefinisian objektid dan pengujian empiris menjadi sulit, kalau tidak boleh disebut mustahil (Uno, 2008: 9-10).
Sebagaiman telah diketahui, Skinner tidak menerima gagasan menganai kepribadian (personality) dan diri (self) sebagai pendorong atau pengaruh tingkah laku. Ia menyebut gagasan semacam itu sebagai sisa dari animisme primitive. Skinner juga menolak jalan buntu mengenai tingkah laku. Dari perspekif behaviorisme Skinner, studi tentang kepribadian melibatkan pengujian yang sistematis dan pasti atas sejarah hidup atau pengalaman belajar dan latar belakanggenetik dan faktor bawaan yang khas dari individu.
Menurut Skinner, individu adalah organisme yang memperoleh perbendaharan tingkah lakunya melalui belajar. Dia bukanlah agen  penyebab tingkah laku, melainkan tempat kedudukan atau suatu poin di mana faktor lingkungan dan bawaan yang khas secara bersama menghasilkan akibat (tingkah laku) yang khas pula pada individu tersebut. Selanjutnya bagi Skinner studi tentang kepribadian itu ditujukan kepada penemuan pola yang khas dan kaitan antara tingkah organisme dan konsekuensi-konsekusnsi yang diperkuatnya (Uno, 2008: 24).

4.      Peran Guru Mengajar Siswa
Kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti: tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik pebelajar, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Pembelajaran yang dirancang dan berpijak pada teori behaviorisme memandang bahwa pengetahuan adalah obyektif, pasti, tetap, tidak berubah. Pengetahuan telah terstruktur dengan rapi, sehingga belajar adalah perolehan pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan (transfer of knowledge) ke orang yang belajar atau pebelajar.
Fungsi mind atau pikiran adalah untuk menjiplak struktur pengetahuan yag sudah ada melalui proses berpikir yang dapat dianalisis dan dipilah, sehingga makna yang dihasilkan dari proses berpikir seperti ini ditentukan oleh karakteristik struktur pengetahuan tersebut. Pebelajar diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid (Awaludin, 2010).
Dalam hal ini, guru berperan dalam pembelajaran siswa yang tujuannya ditekankan pada penambahan pengetahuan, sedang belajar sebagai aktivitas "mimetic" yang menuntut siswa untuk mengungkapkan kembali pengetahuan yang sudah dipelajari  dalam bentuk laporan, kuis, atau tes. Penyajian isi atau materi pelajaran menekankan pada keterampilan yang terisolasi atau akumulasi fakta mengikuti urutan dari bagian ke keseluruhan.  Pembelajaran mengikuti urutan kurikulum secara ketat, sehingga aktivitas belajar lebih banyak didasarkan pada buku teks/buku wajib dengan penekanan pada keterampilan mengungkapkan kembali isi buku teks.buku wajib tersebut.
Evaluasi menekankan pada respon pasif, keterampilan secara terpisah, dan biasanya menggunakan paper and pencil test.  Evaluasi hasil belajar menuntut satu jawaban benar.  Maksudnya, bila siswa menjawab secara "benar" sesuai dengan keinginan guru, hal ini menunjukkan bahwa siswa telah menyelesaikan tugas belajarnya.  Evaluasi dipandang sebagai bagian  yang terpisah dari kegiatan pembelajaran, dan biasanya dilakukan setelah  selesai kegiatan pembelajaran.  Teori ini menekankan evaluasi pada kemampuan siswa secara individual (Budiningsih, 2014: 28)








B.     Psikologi Kognitif Piaget
Kognitif adalah salah satu ranah dalam taksonomi (pendidikan Pusat Bahasa Depdiknas. 2005:126). Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan : pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal).
Teori kognitif lebih menekankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Oleh sebab itu kognitif berbeda dengan teori behavioristik, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespons terhadap stimulus yang datang kepada dirinya.
Teori perkembangan kognitif Piaget adalah salah satu teori yang menjelasakan bagaimana anak beradaptasi dengan dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian sekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek-objek seperti mainan, perabot, dan makanan serta objek-objek sosial seperti diri, orangtua dan teman. Bagaimana cara anak mengelompokan objek-objek untuk mengetahui persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya, untuk memahami penyebab terjadinya perubahan dalam objek-objek dan perisiwa-peristiwa dan untuk membentuk perkiraan tentang objek dan peristiwa tersebut.
Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif dalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas. Anak tidak pasif menerima informasi. Walaupun proses berfikir dalam konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasi oleh pengalaman dengan dunia sekitarnya, namun anak juga berperan aktif dalam menginterpretasikan informasi yang ia peroleh melalui pengalaman, serta dalam mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi mengenai dunia yang telah ia punya.
Piaget percaya bahawa pemikiran anak-anak berkembang menurut tahap-tahap atau priode-periode yang terus bertambah kompleks. Menurut teori tahapan Piaget, setiap individu akan melewati serangkaian perubahan kualitatif yang bersifat invariant, selalu tetap, tidak melompat atau mundur. Perubahan kualitatif ini terjadi karena tekanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkunagn serta adanya pengorganisasian struktur berfikir. Sebagai seorang yang memperoleh pendidikan dasar dalam bidang eksakta, yaitu biologis, maka pendekatan dan uraian dari teorinya terpengaruh aspek biology (Sukarman, D. 2007: 78).



1.      Fase-fase Perkembangan Kognitif Anak
Menurut Piaget, pikiran anak-anak dibentuk bukan oleh ajaran orang dewasa atau pengaruh lingkungan lainnya. Anak-anak memang harus berinteraksi dengan lingkungan untuk berkembang, namun merekalah yang membangun struktur-struktur kognitif baru dalam dirinya. Piaget juga yakin bahwa individu melalui empat tahap dalam memahami dunia. Masing-masing tahap terkait dengan usia dan terdiri dari cara berfikir yang khas/berbeda
Tahapan perkembangan kognitif menurut Piaget adalah sebagai berikut:
1)      Tahap Sensori Motor.
Tahap ini merupakan tahap pertama. Tahap ini dimulai sejak lahir sampai usia 2 tahun. Pada tahap ini, bayi membangun suatu pemahaman tentang dunia dengan mengkoordinasikan pengalaman-pengalaman sensor (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan-tindakan fisik.
Dengan berfungsinya alat-alat indera serta kemampuan kemampuan-kemampuan melakukan gerak motorik dalam bentuk refleks ini, maka seorang bayi berada dalam keadaan siap untuk mengadakan hubungan dengan dunianya (Syaodih, N. 2007: 56).
Piaget membagi tahap sensori motor ini kedalam 6 periode, yaitu:
a.       Periode 1: Penggunaan Refleks-Refleks (Usia 0-1 bulan)
Refleks yang paling jelas pada periode ini adalah refleks menghisap (bayi otomatis menghisap kapanpun bibir mereka disentuh) dan refleks mengarahkan kepala pada sumber rangsangan secara lebih tepat dan terarah. Misalnya jika pipi kanannya disentuh, maka ia akan menggerakkan kepala kearah kanan.
b.      Periode 2: Reaksi Sirkuler Primer (Usia 1-4 bulan)
Reaksi ini terjadi ketika bayi menghadapi sebuah pengalaman baru dan berusaha mengulanginya. Contoh: menghisap jempol.
Pada contoh menghisap jempol, bayi mulai mengkoordinasikan gerakan motorik dari tangannya dan Penggunaan fungsi penglihatan untuk melihat jempol.
c.       Periode 3: Reaksi Sirkuler sekunder (Usia 4-10 bulan)
Reaksi sirkuler primer terjadi karena melibatkan koordinasi bagian-bagian tubuh bayi sendiri, sedangkan reaksi sirkuler sekunder terjadi ketika bayi menemukan dan menghasilkan kembali peristiwa menarik diluar dirinya.
d.      Periode 4: Koordinasi skema-skema skunder (Usia 10-12 bulan)
Pada periode ini bayi belajar untuk mengkoordinasikan dua skema terpisah untuk mendapatkan hasil. Contoh: suatu hari Laurent (anak Piaget) ingin memeluk kotak mainan, namun Piaget menaruh tangannya ditengah jala. Pada awalnya Laurent mengabaikan tangan ayahnya. Dia berusaha menerobos atau berputar mengelilinginya tanpa menggeser tangan ayahnya. Ketika Piaget tetap menaruh tangannya untuk menghalangi anaknya, Laurent terpaksa memukul kotak mainan itu sambil melambaikan tangan, mengguncang tubuhnya sendiri dan mengibaskan kepalanya dari satu sisi ke sisi lain. Akhirnya setelah beberapa hari mencoba, Laurent berhasil menggerakkan perintang dengan mengibaskan tangan ayahnya dari jalan sebelum memeluk kotak mainan. Dalam kasus ini, Laurent berhasil mengkoordinasikan dua skema terpisah yaitu: 1). Mengibaskan perintang 2). Memeluk kotak mainan.
e.       Periode 5: Reaksi Sirkuler Tersier (Usia 12-18 bulan)
Pada periode 4, bayi memisahkan dua tindakan untuk mencapai satu hasil tunggal. Pada periode 5 ini bayi bereksperimen dengan tindakan-tindakan yang berbeda untuk mengamati hasil yang berbeda-beda. Contoh: Suatu hari Laurent tertarik dengan meja yang baru dibeli Piaget. Dia memukulnya dengan telapak tangannya beberapa kali. Kadang keras dan kadang lembut untuk mendengarkan perbedaan bunyi yang dihasilkan oleh tindakannya.
f.       Periode 6: Permulaan Berfikir (Usia 18-24 bulan)
Pada periode 5 semua temuan-temuan bayi terjadi lewat tindakan fisik, pada periode 6 bayi kelihatannya mulai memikirkan situasi secara lebih internal sebelum pada akhirnya bertindak. Jadi, pada periode ini anak mulai bisa berfikir.dalam mencapai lingkungan, pada periode ini anak sudah mulai dapat menentukan cara-cara baru yang tidak hanya berdasarkan rabaan fisis dan internal, tetapi juga dengan koordinasi internal dalam gambaran atau pemikirannya.
2)      Tahap Pemikiran Pra-Operasional
Tahap ini berada pada rentang usia antara 2-7 tahun. Pada tahap ini anak mulai melukiskan dunia dengan kata-kata dan gambar-gambar atau simbol. Menurut Piaget, walaupun anak-anak pra sekolah dapat secara simbolis melukiskan dunia, namun mereka masih belum mampu untuk melaksanakan “ Operation (operasi) ”, yaitu tindakan mental yang diinternalisasikan yang memungkinkan anak-anak melakukan secara mental yang sebelumnya dilakukan secara fisik (Syaodih, N. 2007: 62).
Perbedaan tahap ini dengan tahap sebelumnya adalah “ kemampuan anak mempergunakan simbol”. Penggunaan simbol bagi anak pada tahap ini tampak dalam lima gejala berikut:


a.       Imitasi tidak langsung
Anak mulai dapat menggambarkan sesuatu hal yang dialami atau dilihat, yang sekarang bendanya sudah tidak ada lagi. Jadi pemikiran anak sudah tidak dibatasi waktu sekarang dan tidak pula dibatasi oleh tindakan-tindakan indrawi sekarang
Contoh: anak dapat bermain kue-kuean sendiri atau bermain pasar-pasaran. Ini adalah hasil imitasi:
b.      Permainan Simbolis
Sifat permainan simbolis ini juga imitatif, yaitu anak mencoba meniru kejadian yang pernah dialami.
Contoh: anak perempuan yang bermain dengan bonekanya, seakan-akan bonekanya adalah adiknya.
c.       Menggambar
Pada tahap ini merupakan jembatan antara permainan simbolis dengan gambaran mental. Unsur pada permainan simbolis terletak pada segi “kesenangan” pada diri anak yang sedang menggambar. Sedangkan unsur gambaran mentalnya terletak pada “usaha anak untuk memulai meniru sesuatu yang riel”.
Contoh: anak mulai menggambar sesuatu dengan pensil atau alat tulis lainnya.
d.      Gambaran Mental
Merupakan penggambaran secara pikiran suatu objek atau pengalaman yang lampau. Gambaran mental anak pada tahap ini kebanyakan statis. Anak masih mempunyai kesalahan yang sistematis dalam mengambarkan kembali gerakan atau transformasi yang ia amati.
Contoh yang digunakan Piaget adalah deretan lima kelereng putih dan hitam.
e.       Bahasa Ucapan
Anak menggunakan suara atau bahasa sebagai representasi benda atau kejadian. Melalui bahasa anak dapat berkomunikasi dengan orang lain tentang peristiwa kepada orang lain.
3)      Tahap Operasi berfikir Kongkret
Tahap ini berada pada rentang usia 7-11 tahun.tahap ini dicirikan dengan perkembangan system pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan yang logis. Anak sudah mengembangkan operasi logis. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
a.       Pengurutan
Yaitu kemampuan untuk mengurutkan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
b.      Klasifikasi
Kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan).
c.       Decentering
Anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap gelas lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding gelas kecil yang tinggi.
d.      Reversibility
Anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
e.       Konservasi
Memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi gelas yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi gelas lain.
f.       Penghilangan sifat Egosentrisme
Kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, Lala menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Baim memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Lala kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Lala akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Baim.
4)      Tahap Operasi berfikir Formal
Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia 11 tahun dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia.
Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.
Pada tahap ini, remaja telah memiliki kemampuan untuk berpikir sistematis, yaitu bisa memikirkan semua kemungkinan untuk memecahkan suatu persoalan. Contoh: ketika suatu saat mobil yang ditumpanginya mogok, maka jika penumpangnya adalah seorang anak yang masih dalam tahap operasi berpikir kongkret, ia akan berkesimpulan bahwa bensinnya habis. Ia hanya menghubungkan sebab akibat dari satu rangkaian saja. Sebaliknya pada remaja yang berada pada tahap berfikir formal, ia akan memikirkan beberapa kemungkinan yang menyebabkan mobil itu mogok. Bisa jadi karena businya mati, atau karena platinanya, dll.
Seorang remaja pada tahap ini sudah mempunyai ekuilibrum yang tinggi, sehingga ia dapat bepikir fleksibel dan efektif, serta mampu berhadapan dengan persoalan yang kompleks. Remaja dapat berfikir fleksibel karena dapat melihat semua unsur dan kemungkinan yang ada. Dan remaja dapat berfikir efektif karena dapat melihat pemikiran mana yang cocok untuk persoalan yang dihadapi (Syaodih, N. 2007: 63).
2.      Belajar Anak menurut Piaget
Menurut piaget Belajar dapat didefinisikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi akibat adanya pengalaman dan sifatnya relatif tetap. Teori Piaget mengenai terjadinya belajar didasari atas 3 konsep dasar, yaitu skema, asimilasi, akomodasi yang akan menghasilkan keseimbangan. Piaget memandang belajar itu sebagai tindakan kognitif, yaitu tindakan yang menyangkut pikiran. Tindakan kognitif menyangkut tindakan penataan dan pengadaptasian terhadap lingkungan (Dahar, R. 1989:54).
1)      Skema
istilah skema atau skemata yang diberikan oleh Piaget untuk dapat menjelaskan mengapa seseorang memberikan respon terhadap suatu stimulus dan untuk menjelaskan banyak hal yang berhubungan dengan ingatan. Skema adalah struktur kognitif yang digunakan oleh manusia untuk mengadaptasi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan ini secara intelektual.
2)      Asimilasi
asimilasi itu suatu proses kognitif, dengan asimilasi seseorang mengintegrasikan bahan-bahan persepsi atau stimulus ke dalam skema yan ada atau tingkah laku yang ada. Asimilasi berlangsung setiap saat. Seseorang tidak hanya memperoses satu stimulis saja, melainkan memproses banyak stimulus. Secara teoritis, asimilasi tidak menghasilkan perubahan skemata, tetapi asimilasi mempnagruhi pertumbuhan skemata. Dengan demikian asimilasi adalah bagian dari proses kognitif, denga proses itu individu secara kognitif megadaptsi diri terhadap lingkungan dan menata lingkungan itu.
3)      Akomodasi
Akomodasi dapat diartikan sebagai penciptaan skemata baru atau pengubahan skemata lama. Asimilasi dan akomodasi terjadi sama-sama saling mengisi pada setiap individu yang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Proses ini perlu untuk pertumbuhan dan perkembangann kognitif. Antara asimilasi dan akomodasi harus ada keserasian dan disebut oleh Piaget adalah keseimbangan.
Piaget menginterpretasikan perkembangan kognitif dengan menggunakan diagram berikut :
            Description: new-picture-1

Berdasarkan diagram tersebut dimulai dengan meninjau anak yang sudah memiliki pengalaman yang khas, yang berarti anak sudah memiliki sejumlah skemata yang khas. Pada suatu keadaan seimbang sesaat ketika ia berhadapan dengan stimulus (bisa berupa benda, peristiwa, gagasan) pada pikiran anak terjadi pemilahan melalalui memorinya. Dalam memori anak terdapat 2 kemungkuinan yang dapat terjadi yaitu :
1)      Terdapat kesesuaian sempurna antara stimulus dengan skema yang sudah ada dalam pikiran anak
2)      Terdapat kecocokan yang tidak sempurna, antara stimulus dengan skema yang ada dalam pikiran anak.
Kedua hal itu merupakan kejadian asimilasi.
Menurut diagram, kejadian kesesuaian yang sempurna itu merupakan penguatan terhadap skema yang sudah ada. Stimulus yang baru (datang) tidak sepenuhnya dapat diasimilasikan ke dalam skemata yang ada. Di sini terjadi semacam gangguan mental atau ketidakpuasan mental seperti keingintahuan, kepedulian, kebingungan, kekesalan. Dalam keadaaan tidak seimbang ini anak mempunyai 2 pilihan :
1)      Melepaskan diri dari proses belajar dan mengabaikan stimulus atau menyerah dan tidak berbuat aa-apa (jalan buntu)
2)      Memberi tanggapan terhadap stimulus baru itu baik berupa tanggapan secara fisik maupun mental. Bila ini dilakukan anak mengubah pandangannya atau skemanya sebagai akibat dari tindakan mental yang dilakukannya terhadap stimulus itu. Peritiwa ini disebut akomodasi (Dahar, R. (1989:77).
3.      Peran Guru Mengajar Anak
Berdasarkan pendapat-pendapat mengenai peranan guru diatas, Mukhlis, H. (2010: 144-146) merincikan peranan guru tersebut menjadi 9 peran guru. 9 peranan guru dalam kegiatan belajar mengajar tersebut yaitu:
1)      Informator. Sebagai pelaksana mengajar informatif, laboratorium, studi lapangan dan sumber informasi kegiatan akademik maupun umum.
2)      Organisator. Pengelola kegiatan akademik, silabus, workshop, jadwal pelajaran dan lain-lain. Organisasi komponen-komponen kegiatan belajar harus diatur oleh guru agar dapat mencapai efektivitas dan efisiensi dalam belajar pada diri guru maupun siswa.
3)      Motivator. peran sebagai motivator penting artinya dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Guru harus mampu memberikan rangsangan, dorongan serta reinforcement untuk mengembangkan potensi siswa, menumbuhkan swadaya (aktivitas) dan daya cipta (kreativitas), sehingga akan terjadi dinamika dalam proses belajar.
4)      Pengarah atau Director. Guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan.
5)      Inisiator. Guru sebagai pencetus ide-ide dalam proses belajar. Ide-ide yang dicetuskan hendaknya adalah ide-ide kreatif yang dapat dicontoh oleh anak didik.
6)      Transmitter. Dalam kegiatan belajar mengajar guru juga akan bertindak selakuk penyebar kebijaksanaan pendidikan dan pengetahuan.
7)      Fasilitator. Guru wajib memberikan fasilitas atau kemudahan dalam proses belajar mengajar misalnya dengan menciptakan susana kegiatan pembelajaran yang kondusif, seerasi dengan perkembangan siswa, sehingga interaksi belajar mengajar berlangsung efektif dan optimal.
8)      Mediator. Mediator ini dapat diartikan sebagai penengah dalam kegiatan belajar siswa. Misalnya saja menengahi atau memberikan jalan keluar atau solusi ketika diskusi tidak berjalan dengan baik. Mediator juga dapat diartikan sebagai penyedia media pembelajaran, guru menentukan media pembelajaran mana yang tepat digunakan dalam pembelajaran.
9)      Evaluator. Guru memiliki tugas untuk menilai dan mengamati perkembangan prestasi belajar peserta didik. Guru memiliki otoritas penuh dalam menilai peserta didik, namun demikian evaluasi tetap harus dilaksanakan dengan objektif. Evaluasi yang dilakukan guru harus dilakukan dengan metode dan prosedur tertentu yang telah direncanakan sebelum kegiatan pembelajaran dimulai.

C.     Psikologi Penomenologi dan Humanistik
1.      Psikologi Penomenologi Gestalt
Pendiri  psikologi Gestalt adalah Max Wertheimer (1880-1943) dan bekerjasama dengan tokoh lainnya yakni Walfgang Kohler (1887-1967) dan Kurt Koffa (1886-1941) meskipun ketigana memberi kontribusi sendiri-sendiri, tetapi ide-ide mereka mirip satu sama lain. Menurut Olson (2010 :281) yang dikutip juga oleh Anda (2012 :117). Menurut Hall dan Linzay (1998 :197) psikolog Gestalt berkembang di German sebelum Perang Dunia I. Filsafat yang dominan melandasi psikologi Gestalt adalah penomenologi, salah seorang tokoh psikologi Gestalt Wertheimer (Olson, 2010:281), teorinya menjelaskan bahwa fenomena itu dipandang bukan merupakan bagian-bagian yang terpisah-pisah tetapi dilihat secara utuh, begitu pula memandang manusia (tidak hanya memperhatikan kepala, tangan dann kaki, tetapi dilihat seluruh tubuh).
Pandangan Gestalt sebagaimana dikemukakan Olson (2010:282) adalah “keseluruhan itu berbeda dari penjumlahan bagian-bagiannya” atau “membagi-bagi atau distorsi’. Sejalan dengan pandangan Hall dan Linzay (1985 :197) sekalipun redaksi berbeda tetapi maknanya mendekati, bahwa: “...organism always behaves as unified whole, not entities but parts of a single unity...” Maksud ungkapan ini menggambarkan bahwa, manusia sebagai organisme belajar secara keseluruhan, bukan entitas yang terpisah-pisah.
a.       Belajar Siswa Menurut Teori Gestlt
Pandangan Nasution (1989 :32) bahwa teori Gestalt berpendapat keseluruhan lain dan lebih dari pada jumlah bagian-bagiannya. Anak tumbuh sebagai keseluruhan. Perubahan pada satu aspek akan mempengaruhi keseluruhan pribadi anak. Dengan demikian anak sebagai organisasi yang utuh ketika belajar yang aktiif bukan kepalanya saja, dan perasaannnya saja, dan juga fisiknya saja, melainkan keseluruan pribadi anak (wholoneess) seperti aspek-aspek kognitif, apektif dan psikomotor. Keutuhan inilah yang oleh kaum Gestatlis dianggap sebagai subjek yang seharusnya menjadi penelitian psikologi. Kaum Gestatlis memandang otak tidak sekedar menerima stimulus dari lingkungan (seperti kaum behaviorisme), melainkan otak aktif menginterprestasi kejadian-kejadian yang terjadi di lingkungan secara aktif, kreatif dan efektif.
Dalam belajar siswa tidak hanya menumpuk pengetahuan. Adakalanya terjadi “lompatan” yang disebut “insight” atau pemahaman atau penalaran tiba-tiba. Masukan informasi baru diproses secara mental dengan informasi yang tersimpan dalam ingatan dan dapatlah terjadi “insight” atau pemahaman baru yang menakjubkan, (Nasution, 1989 :32).
b.      Peran Guru Mengajar Siswa
Jiwa manusia menurut aliran Gestalt ini, adalah suatu keseluruhan yang berstruktur atau merupakan suatu sistem, bukan hanya terdiri atas sejumlah bagian atau unsur yang satu sama lain terpisah, yang tiidak mempunyai hubungan fungsional. Sebagai individu, manusia itu bereaksi atau lebih tepatnya berinteraksi dengan dunia luar dengan kepribadiannya dan dengan cara yang unik pula. Sebagai pribadi, manusia tidak secara langsung bereaksi terhadap suatu perangsang dan tidak pula reaksinya itu dilakukan secara trial and error seperti dikatakan oleh penganut teori conditioning. Interaksi manusia terhadap dunia luar bergantung pada cara ia menerima stimulus dan bagaimana serta apa motif yang ada padanya. Manusia adalah makhluk yang memiliki kebebasan. Ia bebas memilih cara bagaimana ia berinteraksi, stimulus mana yang diterimanya dan mana yang ditolaknya.
Prinsip-prinsip berikut ini merupakan rangkuman atau kesimpulan dari teori psikologi Gestalt :
1)      Belajar dimulai dari suatu keseluruhan, kemudian baru menuju bagian-bagian. Dari hal-hal yang sangat komplks menuju hal-hal yang lebih sederhana.
2)      Keseluruhan memberi makna pada bagian-bagian. Bagian-bagian terjadi dalam suatu keseluruhan. Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam rangka keseluruhan tersebut.
3)      Belajar adalah penyesuaian diri dengan lingkungan. Seseorang belajar apabila ia dapa bertindak dan berbuat sesuai dengan apa yang dipelajarnya.
4)      Belajar akan berhasil bila tercapai kematangan untuk memperoleh pengertian. Pengertian adalah kemampuan hubungan antara berbagai faktor dalam situasi yang problematis.
5)      Belajar akan berhasil jika ada tujuan yang berarti bbagi individu.
6)      Dalam proses belajar itu, individu selalu merupakan organisme yang aktif, bukan bejana yang harus diisi oleh orang lain.
Guru yang berpandangan humanis memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan aspek-aspek afektif yang positif seperti keyakinan, nilai-nilai, tujuan, rasa takut, dan kemampuan hubungan dengan orang lain dan sebagainya. Pendidikan menempatkan siswa sebagai subjek didik, artinya siswa diberi kebebasan melakuka kreativitas dialog dengan guru dan guru berperan sebagai fasilitator bagi siswa.
Peran pendidik sebagaimana Sukmadinata (2006 :87) mengungkapkan ibarat petani yang berusaha menciptakan tanah yang gembur, air dan udara yang cukup, terhindar dari berbagai hama, untuk tumbuhnya tanaman yang penuh dengan berbagai potensi. Dalam pendidikan tidak ada pemaksaan, yang ada adalah dorongan dan rangsangan untuk berkembang.
Sebagai contoh salah sorang sosok pendidik humanis di negeri kita adalah Ki Hadjar Dewantara teori pendidikannya banayak mengandung sentuhan psikologi humanistik. Peran guru dibelakang mampu memberi motivasi kepada siswa, tetapi bukan memaksa, di tengah-tengah guru mampu memberi teladan yang berguna bagi kehidupan siswa, tetapi bukan hukuman fisik dan di epan mampu mengembangkan karsa (kemampuan intelektual, emosional, sosial, spiritual dan fisik) siswa, tetapi tidak memperlakukan siswa seperti orang dewasa.


2.      Psikologi Humanistik Masiaw
Bagi penganut teori ini, proses belajar harus berhulu dan bermuara pada manusia itu sendiri. Dari keempat teori belajar, teori humanistic inilah yang paling abstrak, yang paling mendekati dunia filsafat daripada dunia pendidikan. Meskipun teori ini sangat menekankan pentingnya “isi” dari proses belajar., dalam kenyataan teori ini lebih banyak berbicara tentang pendidikan dan proses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Dengan kata lain, teori ini lebih tertarik pada ide belajar dalam bentuknya yang paling ideal daripada belajar seperti apa adanya, seperti apa yang biasa kita amati dalam dunia keseharian. Wajar jika teori ini sangat bersifat eklektik. Teori apapunn dapat dimanfaatkan asal tujuan untuk “memanusiakan manusia” (mencapai aktualisasi diri dan sebagainya itu) dapat tercapai.
Dalam praktik, teori ini antara lain terwujud dalam peendekatan yang diusulkan oleh Ausubel (1968) yang disebut “belajar bermakna” atau Meaningful Learning. Teori ini juga terwujud dalam teori Bloom dan Krathwohl dalam bentuk Taksonomi Bloom. Selain itu, empat pakar lain yang juga termasuk ke dalam kubu teori ini adalah Kolb, Honey, dan Mumford, serta Habermas yang masing-masing pendapatnya akan dibahas berikut ini :
1.      Bloom dan Krathwohl
Dalam hal ini, Bloom dan Krathwohl menunjukan apa yang mungkin dikuasai (dipelajari)oleh siswa, yang tercakup dalam tiga kawasan berikut :
a.       Kognitif
Kognitif terdiri dari enam tingkatan, yaitu:
1)      Pengetahuan (mengingat, menghapal)
2)      Pemahaman (menginterpretasikan)
3)      Aplikasi (menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah)
4)      Analisis (menjabarkan suatu konsep)
5)      Sintesis (menggabungkan bagian-bagian konsep menjadi suatu konsep utuh)
6)      Evaluasi (membandingkan nilai, ide, metode, dan sebagainya)
b.      Psikomotor
Psikomotor terdiri dari lima tingkatan, yaitu:
1)      Peniruan (menirukan gerak)
2)      Penggunaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak)
3)      Ketepatan (melakukan gerak dengan benar)
4)      Perangkaian (malakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar)
5)      Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar)
c.       Afektif
Afektif terdiri dari lima tingakatan, yaitu:
1)      Pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu)
2)      Merespons (aktif berpartisipasi)
3)      Penghargaan (menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu)
4)      Pengorganisasian (menghubung-hubungkan nilai-nilai yang dipercayai)
5)      Pengalaman (menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup)
Taksonomi Bloom ini, seperti yang telah kita ketahui, berhasil memberi inspirasi kepada banyak pakar lain untuk mengembangkan teori-teori belajar dan pembelajaran. Pada tingkatan yang lebih praktis, taksonomi ini telah banyak dalam bahasa yang mudah dipahami, operasional, serta dapat diukur. Dari beberapa taksonomi belajar, mungkin taksonomi Bloom inilah yang paling popular (setidaknya di Indonesia).
Selain itu, teori Bloom ini juga banyak dijadikan pedoman untuk membuat butir-butir soal ujian, bahkan oleh orang-orang yang sering mengkritik taksonomi tersebut. Kritikan atas klasifikasi kemampuan yang dikemukakan bloom ternyata diperbaiki oleh para pakar pendidikan dengan mengadakan revisi pada aspek kognitif. Dalam klasifikasi taksonominya pada aspek kognitif, Bloom mengemukakan enam tingkatan kemampuan yang meliputi (1) pengetahuan (2) pemahaman (3) penerapan (4) analisis dan (6) evaluasi. Melalui pakar pendidikan yang terdiri dari Peter W. Airasian, Kathleen A. Cruikshank, Richard E. Mayer, Paur E. Pitrich, James Raths dan Merlin C. Wittrock dengan editor Orin W. Anderson dan David R. Krathwohl dalam buku yang berjudul A Taksonomy for Learning, Teaching and Assesing yang diterbitkan pada tahun 2001 mengadakan revisi aspek kemampuan kogniitif tersebut dengan memilah dua dimensi yakni (1) dimensi pengetahuan dan (2) dimensi proses kognitif.
Dalam dimensi pengetahuan di dalamnya memuat objek ilmu yang disusun dari (1) pengetahuan fakta (2) pengetahuan konsep (3) pengetahuan procedural (4) pengetahuan meta kognitif. Sedangkan dalam dimensi proses kognitif di dalamnya memuat enam tingkatan yang meliputi 1) mengingat, 2) mengerti, 3) menerapkan, 4) menganalisis, 5) mengevaluasi dan 6) mencipta.
2.      Kolb
Sementara itu, seorang ahli lain bernama Kolb membagi tahapan belajar menjadi empat tahap, yaitu:
a.       Pengalaman konkret
b.      Pengamatan aktif dan reflektif
c.       Konseptualisasi
d.      Eksperimentasi aktif
Menurut Kolb, siklus belajar semacam itu terjadi secara berkesinambungan dan berlangsung di luar kesadaran siswa. Dengan kata lain, meskipun dalam teorinya kita mampu membuat garis tegas antara tahap satu dengan tahap lainnya, namun dalam praktik peralihan dari satu tahap ke tahap lainnya itu seringkali terjadi begitu saja, sulit kit atentukan kapan beralihnya.
3.      Honey
Berdasarkan teori Kolb ini, Honey dan Mumford membuat penggolongan siswa. Menurut mereka, ada empat macam atau tipe siswa yakni 1) aktivis 2) reflector 3) teoris dan 4) pragmatis.
      Ciri dari siswa yang bertipe aktivis adalah mereka yang suka melibatkan diri pada pengalaman-pengalaman baru. Mereka cenderung berpikiran terbuka dan mudah diajak berdialog. Namun, siswa semacam ini biasanya kurang skeptic terhadap sesuatu. Ini kadangkala identic dengan sifat mudah percaya. Dalam proses belajar, mereka menyukai metode yang mampu mendorong seseorang menemukan hal-hal baru, seperti brainstorming atau problem solving. Akan tetapi, mereka cepat merasa bosan dengan hal-hal yang memerlukan waktu lama dalam implementasi.
      Untuk siswa yang bertipe reflector, sebaliknya cenderung sangat berhati-hati mengambil langkah. Dalam proses pengambilan keputusan, siswa tipe ini cenderung “konservatif” dalam arti mereka lebih suka menimbang-nimbang secara cermat, baik buruk suatu keputusan. Sedangkan siswa yang bertipe teoris biasanya sangat kritis, senang mnganalisis, dan tidak menyukai pendapat atau penilaian yang sifatnya subjektif. Bagi mereka, berpikir secara rasional adalah sesuatu yang sangat penting. Mereka biasanya juga sangat skeptis dan tidak menyukai hal-hal yang bersifat spekulatif. Untuk siswa tipe pragmatis biasanya menaruh perhatian besar pada aspek-aspek praktis dari segala hal. Kebanyakan siswa dengan tipr ini tidak suka berlarut-larut dalam membahas aspek teoretis filosofis dari sesuatu. Bagi mereka, sesuatu dikatakan ada gunanya dan baik hanya jika bias dipraktikan.
4.      Habermas
Ahli psikologi lain adalah Habermas yang dalam pandangannya bahwa belajar sangat dipengaruhi oleh interaksi, baik dengan lingkungan maupun dengan sesame manusia. Dengan asumsi ini, Habermas mengelompokan tipe belajar menjadi tiga bagian, yaitu :
a.       Belajar teknis (technical learning)
b.      Belajar praktis (practical learning)
c.       Belajar emansipatoris (emancipatory learning)
Dalam belajar teknis, siswa belajar bagaimana berinteraksi dengan alam sekelilingnya. Mereka berusaha menguasai dan mengelola alam dengan cara mempelajari keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk itu.
Dalam belajar praktis, siswa juga belajar berinteraksi, tetapi pada tahap ini yang lebih dipentingkan adalah interaksi antara dia dan orang-orang disekelilingnya. Pada tahap ini, pemahaman siswa terhadap alam tidak berhenti sebagai suatu pemahaman yang kering dan terlepas kaitannya dengan manusia. Akan tetapi, pemahaman terahadap alam itu justru relevan jika dan hanya jika berkaitan dengan kepentingan manusia.
Sedangkan dalam belajar emansipatoris, siswa berusaha mencapai pemahaman berusaha mencapai pemahaman dan kesadaran yang sebaik mungkin tentang perubahan kultural dari suatu lingkungan. Bagi Habermas, pemahaman dan kesadaran terhadap transformasi kultural ini dianggap tahap belajar yang paling tinggi. Sebaba tarnsformasi kultural inilah yang dianggap sebagai tujuan pendidikan yang paling penting.













D. Kegunaan Psikologi bagi Guru
Salah satu kegunaan psikologi belajar bagi guru untuk membantu mempermudah belajar siswa, agar mereka tidak kandas ditengah jalan mengikuti pelajaran. Ornstein dan Hunkins (1998:101) mengungkapkan bahwa ilmu psikologi “….basis for the methods, materials, activities, of learning, and curriculum decisions”. Artinya, bahwa ilmu psikologi sebagai basis yang penting untuk menentukan berbagai metode, materi pelajaran, aktivitas belajar siswa dan keputusan kurikulum yang akan diajarkan kepada siswa. Selanjutnya Ornestein dan Hunkins (1998:100) mengungkapkan hubungan psikologi dengan kurikulum “ psychology is concerned with the question of how people learn and curriculum ask how … design of curriculum”. Rumusan ini menunjukan peran psikologi berguna untuk mengarahkan siswa bagaimana belajar, sedangkan peran kurikulum mendisain berbagai ilmu (materi pelajaran) agar ilmu tersebut dikuasai oleh siswa (Purwanto, N. 2007: 98).
Untuk mempermudah para siswa menguasai kurikulum para psikolog berusaha keras melakukan berbagai penelitian yang didahului dengan pertanyaan bagaimana cara mendidik dan mengajar siswa agar ia mudah menguasai pelajaran, juga perkembangan aspek-asapek psikologi lainnya berkembang secara optimal. Penelitian yang dilakukan oleh para psikolog untuk memudahkan siswa menguasai pelajaran dan perkembangan psiko-fisiknya optimal. Mereka mlakukan eksperimennya tidak menggunakan anak manusia, melainkan menggunakan binatang baik secara paksa diberi perlakuan atau secara alamiah. Penggunaan binatang sebagai objek penelitian didasarkan pada pemikiran bahwa binatang yang kecerdasannya dianggap rendah mampu melakukan tindakan tertentu yang menakjubkan sudah dapat dipastikan bahwa eksperimen itu pun dapat berlaku dan bahkan lebih berhasil pada manusia, sebab manusia lebih cerdas dari binatang. Berdarkan konteks ini Higlard (1962:6) menyatakan bahwa… we learen from studying the lower animals often helps us to understand. Asumsi ini menggambarakan dengan mempelajari tingkah laku binatang akan banyak menolong mempermudah keberhasilan belajar anak. Berbeda dengan pendapat Winkel (1996:4), mengemukakan bahwa penelitian tentang belajar lebih baik diadakan di dalam kelas, tenaga pengajar dan siswa berinteraksi, jika dipandang akan menghasilkan gambaran yang lebih realistis dari pada gambaran yang diperoleh melalui eksperimen di laboratorium psikologi.
Terlepas dari perbedaan ini, hasil penelitian para psikolog sangat membantu guru dalam memperkaya keilmuannya terutama dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi karena aliran psikologi ini sangat banyak terkadang membuat guru merasa kebingungan memilih aliran psikologi belajar, dan psikologi perkembangan mana yang paling baik diaktualisasikan di depan siswa ketika pembelajaran berlangsung. Agaknya hasil penemuan para psikolog mulai dari aliran psikolog klasik seperti behaviorisme sampai aliran psikologi modern seperti humanistic. Pada intinya yang penting bagi guru mampu mengkondisikan siswa belajar merasa bahagia, senang, bergairah menerima pelajaranbaik dari guru dan sesame temannya, sikap guru memperlakukan siswa penuh perhatian, tekun dan ulet, jujur, sopan dan tegas pada tempatnya, serta berlaku adil pada setiap siswa.



































BAB III
KESIMPULAN

1.      Pengembangan kurikulum yang ada di Indonesia, saat ini telah banyak mengalami perubahan. Banyak hal yang dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum di suatu negara termasuk Indonesia. Diantara landasan pengembangan kurikulum yang perlu dipertimbangkan yaitu landasan psikologi dalam pengembangan kurikulum.
2.      Prinsip belajar behaviorisme mengutamakan tes hasil belajar (testing), pengawasan (monitoring), pembiasaan (drilling), dan impan balik (feedback), ini sebagai cirri khas behaviorisme. Metode belajar behoviorisme mengutamakan belajar individu, intruksi, latihan, penguasaan materi, dan penguasaan kompetensi. Kaum behavioris menempatkan guru pada posisi sentral.
3.      Berkaitan dengan belajar, Piaget membangun teorinya berdasarkan pada konsep Skema yaitu, stuktur mental atau kognitif yang menyebabkan seseorang secara intelektual beradaptasi dan mengoordinasikan lingkungan sekitarnya. Skema pada prinsipnya tidak statis melainkan selalu mengalami perkembangan sejalan dengan perkembangan kognitif manusia. Berdasarkan asumsi itulah, Piaget berpendapat bahwa belajar merupakan proses menyesuaikan pengetahuan baru ke dalam struktur kognitif yang telah dipunyai seseorang. Bagi Piaget, proses belajar berlangsung dalam tiga tahapan yakni: asimilasi, akomodasi.
4.      Gestalt Wertheimer menjelaskan bahwa fenomena itu dipandang bukan merupakan bagian-bagian yang terpisah-pisah tetapi dilihat secara utuh, begitu pula memandang manusia (tidak hanya memperhatikan kepala, tangan dann kaki, tetapi dilihat seluruh tubuh).













DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, A. (2009). Psikologi Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Awaludin. (2010). Teori Belajar Behaviorisme. [online]. http://belajarpsikologi.com/teori-belajar-behaviorisme/

Budiningsih, A. (2004). Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta: Penerbit Rinika Cipta.

Dahar, R. (1989). Teori-Teori Belajar. Jakarta : Erlangga.

Fauzi, A. (1999). Psikologi Umum. Bandung: CV Pustaka Setia.

Feronika. (2012). Teori Behaviorisme Versi Ivan  P Pavlov. [online]

Juanda, A. (2012). Kurikulum & Pembelajaran Teori dan Praktek. Cirebon: Panger

Mukhlis, Hirmaningsih. (2010). Teori Psikologi Perkembangan. Pekanbaru: Psikologi Press
Purwanto, Ngalim. (2007).  Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis—cet. Kedelapan belas. Bandung:  PT. Remaja Rosdakarya.
Pusat Bahasa Depdiknas. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia—Edisi ketiga, cetakan ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Sobur, A. (2003). Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia.

Sukarman, Dadang. (2007). Pengembangan Kurikulum – electronic book Kurikulum dan Teknologi Pendidikan – UPI. Bandung: Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan UPI.
Syaodih, Nana. (2007). Pengembangan Kurikum: Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Uno, H. B. (2008). Orientasi Baru dalam Psikologi Perkembangan. Jakarta: Bumi Aksara.

http://semangatferonika.blogspot.co.id/2012/04/teori-behaviorisme-versi-ivan-p-pavlov.htm

Ismail, M. (2015). Teori Behavioristik Mmenurut Thorndike. [online]

http://makalahpendidikanislamismail.blogspot.co.id/2015/06/teori-behavioristik-menurut-thorndike.html

Pratama, O. (2014). Teori Belajar Ivab Petrovich. [online]

https://oktavianipratama.wordpress.com/makalah-makalah/teori-belajar-ivan-petrovich-pavlov/

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar